Apa Benar ini Makam Raja ?

Pintu Gerbang Makam Raja Gowa ke-26

Hujan gerimis membasahi perjalanan menuju ke makam seorang raja yang akan kami datangi sore ini. Aneh saja karena sejam sebelumnya, sinar matahari di kota Sungguminasa sangat terik.

Beberapa bulan yang lalu seorang teman mengabari bahwa di sebuah lorong sempit di kota Sungguminasa tepatnya di dekat SMP Negeri 1 Sungguminasa terdapat sebuah makam yang di pintu gerbangnya tertulis “Makam I Mallisujawa Raja Gowa XXVII”. Bagi dia, ini sebuah kejutan. Sebagian besar kompleks Makam Raja Gowa yang pernah dia datangi, terkesan rapi dan terpelihara. Lokasinya pun strategis. Sebagai contoh, kompleks Makam Raja Gowa di bukit Tamalate, atau kompleks makam yang berada di Mesjid Tua Katangka. Makam ini malah berada di tempat yang sangat terpencil di tengah-tengah permukiman warga yang sangat padat. 

Raja Gowa ke-XXVII memiliki gelar nama I Mallisujawa Daeng Riboko Arung Mampu Sultan Muhammad Imaduddin Tuminanga ri Tompobalang. 

Berdasarkan informasi ini, kami merencanakan sebuah trip bersama kawan-kawan Komunitas Instagowa, untuk menelusuri tempat tersebut. Judul tripnya adalah #TimeTraveller atau Penjelajah Waktu.

Setiba di lokasi, kami bertemu dengan Daeng Ngalle, Sang Juru Kunci Makam Raja Gowa XXVII. Umurnya sudah tidak muda lagi. Dengan badan yang agak membungkuk, beliau mengantar kami masuk ke dalam rumah berisi sebuah ruangan berbentuk kamar dengan teras yang dilengkapi beberapa kursi kayu di bagian depannya. Perlahan beliau menyalakan lilin “Taibani” yang masih melekat di atas tumpukan batu Makam Raja Gowa ini. Selanjutnya beliau komat-kamit memanjatkan doa. Walau dengan intonasi yang kurang jelas, kami berusaha menyimak sambil duduk bersila di bagian depan pintu makam. 

Daeng Ngalle, Sang Juru Kunci Makam Raja Gowa XXVII.

Beliau menjelaskan bahwa dulunya makam ini terbuka tanpa bangunan, terpapar panas saat musim kemarau dan basah saat hujan menerpa. Atas inisiatifnya, beliau membangun dinding, atap dan teras untuk melindungi bebatuan makam ini. Saat ditanya biayanya dari mana, apakah ada bantuan dari pemerintah atau selainnya, beliau mengakui bahwa biaya pembangunan dikumpulkan dari uang honornya. Berkat pengabdian dan jasanya, beliau pernah diganjar dengan sebuah penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Suara muadzin yang bergema menandai masuknya waktu Shalat Maghrib, mengisyaratkan kepada kami untuk bersegera pamitan kepada Daeng Ngalle. Genggaman tangannya yang lemah, kami harap masih cukup mampu untuk memelihara situs bersejarah ini. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s